close
Banner iklan disini

Empat Karakter Caleg Berpotensi Pada Pileg 2019

On May 25, 2018

Oleh: Zulkifli BI S.Sos,. M.Si

Momentum pemilu legislatif 2019 tahun depan ada beberapa karakter yang perlu dipertimbangkan jika dikaji dengan kepentingan umum untuk bakal calon legislatif.

Bagi bakal calon legislatif yang ingin mencoba  bertarung 4 April mendatang  bisa melaksanakan langkah langkah  untuk mewujudkannya sebagai wadah pembelajaran bagi pribadinya dan masyarakat dengan demikian anggota legislatif yang terpilih nantinya bisa menjadi harapan masyarakat lima tahun kedepan, bermoral dan bertanggung jawab terhadap masyarakat atau konstituen yang diwakilinya.

Upaya untuk melakukan pendidikan politik yang sehat, jujur dan cerdas modal utama bagi bakal calon legislatif baik DPRK, DPRA, DPR RI dan DPD dalam memberikan pemahaman kepada masyarakat dan kesiapan masyarakat untuk menghadapi pemilu dengan tenang.

Pemuda.
Kenapa pemuda, karena Allah memberikan keistimewaan yang begitu besar pada para pemuda.
Iya, kita. Usia, kesempatan belajar, idealisme, dan energi, itu semua milik para pemuda. Tak hanya itu, Allah juga menganugerahkan kita kekuatan intelektual, ingatan, dan analisa yang tajam. Jika dilihat dari kepentingan, pemuda, sedikit sekali kepentingan pribadi lantaran beban tanggung jawab masih sangat sedikit. Dari situlah kita bisa melihat pemuda dan perlu diberikan tanggung jawab lebih.

Berpendidikan.
Orang berpendidikan adalah orang yang telah mengalami proses belajar yang menghasilkan  kemampuan mental  yang  baik dan  berfungsi secara efektif dalam kehidupan pribadi dan kehidupan intelektualnya. Kemampuan berpikir umum yang terlibat dalam membangun pengetahuan dan pengetahuan mengkritisi, kemampuan berkomunikasi secara efektif dengan ber bahasa sederhana dan mudah dipahami. kemampuan untuk belajar secara mandiri untuk berpikir, mencerna, mengkritisi, dan membangun suatu pengetahuan/informasi.
Jika legislatif mempunyai pendidikan sudah otomatis memiliki beberapa karakter yang nantinya mudah dan leluasa dan sosial kemasyarakatan.

Organisatoris.
Organisasi sebagai perkumpulan sekelompok orang (dua atau lebih) yang secara formal dipersatukan dalam suatu kerjasama untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Maka tidaklah salah kalau Organisasi dijadikan wadah yang tepat untuk mengembangkan setiap orang (khususnya remaja) menjadi dirinya sendiri yang berkepribadian. 
Orang yang  berorganisasi tentunya akan lebih berani berbicara di depan umum tanpa ada kegugupan karena mereka sudah terbiasa berbicara di tengah-tengah keramaian. Keberanian, kepercayaan diri, empati, mudah bergaul, Mudah beradaptasi dan keterbukaan membuat masyarakat lebih mudah mendapatkan informasi sebagai keterwakilan masyarakat. Jika para organisatoris menjadi legislator tentunya tidak diragukan lagi akan kemampuan yang diemban.

Berpikir Positif (Qona'ah)
Rela menerima dan merasa cukup dengan apa yang dimiliki sehingga jauh dari sifat kurang yang berlebihan. Orang qona'ah giat bekerja atau berusaha dan bila hasilnya kurang memuaskan, rela menerima dengan syukur kepada Allah. Hikmah qona'ah adalah simbol rasa tentram dalam hidup, sehingga terhindar dari sifat serakah dan tamak. Orang orang yang memiliki qona'ah tidak akan mementingkan kepentingan pribadi yang berlebihan, didalam dunia politisi Tampa imam akan dipolitisasi apapun yang menjadi keuntungan pribadi maupun kelompoknya.

Untuk pemilu legislatif 4 April 2019 kita mengajak partai politik itu memilih caleg yang mewakili partainya memiliki beberapa karakter yang diatas, sehingga apabila caleg terpilih menjadi legislatif bisa diandalkan dan tidak perlu dikhawatirkan lagi, dan apabila karakter itu dimiliki maka masyarakat juga leluasa mempercayakan kepercayaan kepada pribadi legislator tersebut.

Zulkifli BI S.Sos,. M.Si. Penulis adalah Koordinator Sekolah Pemimpin Muda Aceh (SPMA) Kabupaten Pidie dan penerima the Frazi Award 2017. Aktif sebagai Wakil Ketua KNPI Pidie dan Kader HMI. Saat ini dosen Unigha Pidie. (Rls)

Safari Dakwah ke Gampong Meunasah Dayah, Ini Pesan Rahmat Asri Sufa

On May 24, 2018

AtimNews.com | Bireuen - Rahmat Asri Sufa, Tokoh muda asal Aceh di Medan, yang bertindak sebagai penceramah sekaligus pimpinan tim safari ramadhan aneuk nanggroe Medan berkesempatan hadir dan berkunjung ke Gampong Meunasah Dayah, Kec. Kota Juang, Bireuen. Setelah memberi tausiah di Gampong Lapang Barat, Kec. Gandapura pada malam ke - 8 ramadhan, maka malam ke - 9 berhadir di Gampong Meunasah Dayah Bireuen, Jumat (25/5/2018)

Mahasiswa Pascasarjana UIN Sumatera Utara, Rahmat Asri Sufa mengungkapkan, " Insyaallah, safari ramadhan ini akan terus berlanjut sampai malam ke 21 ramadhan di Kabupaten Bireuen. Agendanya saweu gampong, agar lebih dekat dengan masyarakat serta bisa bertatap muka bersama warga-warga di beberapa gampong di Bireuen", ujar Rahmat

Lanjutnya, " Alhamdulillah, sambutan dan semangat warga Meunasah Dayah Bireuen ini sungguh luar biasa, antusias menyiarkan syariat islam melalui ibadah solat taraweh dan witir sangat tinggi, terlihat dari penuhnya shaf-shaf solat baik laki-laki maupun perempuan", tegas Bendahara Tamaddun Institute ini

Syahrul Basri selaku tokoh muda masyarakat meunasah dayah yang mengundang tim safari aneuk nanggroe menyampaikan kepada media ini, " Iya, saya salut khususnya kepada Tgk. Rahmat Asri Sufa, usianya masih muda tetapi semangat dakwahnya luar biasa, ini pemuda serba bisa menurut saya, tidak hanya pandai berbicara sebagai motivator, juga menulis bahkan berceramah. Semoga dengan hadirnya tokoh muda Aceh ini ke Gampong Meunasah Dayah, bisa menjadi inspirasi bahkan motivasi bagi pemuda-pemuda kami untuk berdakwah", tutup Syahrul Basri yang juga Ketua IMDI Bireuen. (Jeni)

Lintas Jalan Subulusalam-Longkib memperihatinkan, Mahasiswa Angkat Bicara

On May 24, 2018

ATIMNEWS.COM | SUBULUSSALAM - Jalan lintas Subulussalam-Longkib sangat begitu miris dan memprihatinkan hampir ratusan kendaraan roda empat dan enam berbadan besar beroperasi setiap harinya, jika kita melihat ruas jalan Longkib itu tidaklah memungkinkan karena ukuran luas jalan begitu kecil dan sempit, maka tidaklah heran jika sering terjadi kecelakaan lalu lintas di daerah tersebut dan ini akan dapat terus berkelanjutan apabila dibiarkan, kekhawatiran kita dari jalan rusak tersebut jangan sampai memakan korban jiwa lebih banyak lagi. Hal tersebut disampaikan Haryono Mahasiswa asal Longkib yang kuliah di Banda Aceh pada (24-05-2018).

Jalan Longkib  banyak terlihat lubang-lubang yang digenangi air, Haryono mengatakan kekhawatiran nya khususnya bagi pengendara sepeda motor masuk dalam lubang genangan air itu yang dapat membahayakan jiwa pengendara. 

Adapun beberapa faktor jalan Lintas umum itu  rusak diantaranya banyaknya mobil perusahaan pengangkut sawit bermuatan besar yang menuju pabrik dan itu melintasi rute jalan menuju pusat Kecamatan longkib sehingga dampak nya merugikan jalan yang di bangun menggunakan uang rakyat tersebut, padahal jalan itu tidak mampu menampung beban berat dari pada anggutan mobil yang hampir setiap hari beroperasi. 

Haryono selaku masyarakat Longkib menyampaikan harapan besar kepada Pemko Subulussalam agar dapat meninjau langsung jalan lintas Kecamatan tersebut untuk dibantu memperbaiki, jangan hanya menerima pajak dari perusahaan pabrik di longkib saja, ia juga menambahkan minimnya respon pemerintah terhadap keluhan yang di sampaikan masyarakatnya, lain lagi persoalan pengelolaan Plasma dan CSR perusahaan yang tidak jelas dalam pengelolaan nya. 

Haryono melihat jika Pemko tidak pernah memperhatikan bagaimana dampak jalan ini kedepannya  dan perkembanganya dimasa akan datang, maka 10 tahun bahkan 25 tahun kedepan yakinlah jalan ini semakin parah hingga berdampak melambatnya perekonomian masyarakat sekitar. 

Lain lagi jalan lintas antar desa seperti desa Darussalam, Desa panji, Desa gunung merapi dan desa-desa lain nya yang sangat memperihatinkan apalagi katanya disaat waktu terjadi hujan jalan berlumpur seperti kubangan karena tidak memiliki aspal, lengkaplah penderitaan warga longkib, dan ia juga meminta agar DPRK dapil Longkib dan Rundeng untuk lebih fokus dan jeli dalam menyerap aspirasi rakyat khususnya Kecamatan Longkib. Imbuhnya. (Munir)

PWOIN Stakeholder Pembangunan di Daerah

On May 23, 2018

AtimNews.com | Jakarta - Memasuki hari ke-6 Ramadhan, Dewan Pengurus Pusat Perkumpulan Wartawan Online Independen NUSANTARA (PWOIN) dua hari berturut-turut menyerahkan Surat Keputusan (SK) bagi kepengurusan tingkat Provinsi.

Setelah Banten yang diberikan Selasa malam, kini giliran Sulawesi Tengah memperoleh SK tadi malam, seusai buka bersama di Jalan Patung, Johar Baru, Jakarta Pusat.

SK tersebut diberikan oleh Ketua Umum Marnala Emi Manurung kepada Ketua PWO Sulawesi Tengah, Egar Mahesa, disaksikan Ketua Pembina PWOI Sulteng Yahdi Basma, Wasekjen DPP IMO, Ahmad Yani, Ketua Litbang Lian Lubis dan Ketua Dewan Pengawas, Taufiq Rachman

"Semoga SK ini menjadikan PWO Sulteng makin solid dan berkibar," jelas Marnala 

Sementara Yahdi Basma, menilai  kehadiran Perkumpulan Wartawan Online (PWO) Independen Nusantara bisa menjadi stakeholder pembangunan daerah. 

Menurut anggota DPRD Provinsi Sulteng dari Fraksi NasDem ini peran media massa memiliki dua sisi strategis bagi siapa yang mengarahkan dan menggunakannya. Sebab, papar Yahdi, media potensial mengubah hal yang benar menjadi salah, dan hal yang salah menjadi benar. 

"Lewat media massa suatu kepemimpinan yang dinilai kurang maksimal kinerja dan keberpihakannya, justru bisa didorong lebih optimal menjadi positif," tutur lelaki yang dikenal aktivis ini.

Apalagi di era digital  kini, peran segmen masyarakat kelompok milenial menjadi segmen penting untuk ditatakelola. "Rumusnya, semakin partisipatif suatu sistem sosial, semakin legitimated kepemimpinan politiknya" ujar Yahdi.

Di daerah, fakta partisipasi masih relatif rendah. "Nah, kehadiran PWO diharapkan bisa jadi bagian yang mengisi itu", pungkas Yahdi yang juga penasehat IPJI Sulteng.                                 

Menurut Egar kehadiran  Yahdi  ke Jakarta mengawal memberikan motivasi yang luar biasa kepada jajaran pengurus PWO Sulteng. "Kami akan menjaga amanah ini dan mengibarkan panji PWO keseluruh Sulawesi Tengah", janji Egar. (Rel pwo)

Sosial Eksperimen, Islam Bukan Terosis

On May 23, 2018

AtimNews.com | Tanjungbalai(22/5),- Sejumlah Pemuda Islam Tanjungbalai Gelar Sosial Eksperimen terkait dengan banyaknya simbol Islam yang kerap dikaitkan dengan Terorisme di Jalan Listrik dekat Masjid Saksi Kota Tanjungbalai. Kegiatan tersebut dilaksanakan sejumlah komunitas anak muda Tanjungbalai seperti Squad Qaf Hijrah dan Pelajar Islam Indonesia(PII) Tanjungbalai.

Menurut koordinator pelaksana Firdaus Sambas kegiatan tersebut bertujuan untuk menepis anggapan masyarakat terkait simbol Islam yang diidentikkan dengan Terorisme seperti cadar, jenggot, celana cingkrak dan lain-lain.

Ketika Munculnya berbagai peristiwa pemboman dan penangkapan sejumlah yang terduga teroris sebagaimana di Surabaya bahkan di kota Tanjungbalai yang kemudian dikembalikan sebagaian karena tidak terbukti terlibat jaringan Terorisme menimbulkan Islamphobia di tengah masyarakat sebagaimana adanya Perempuan bercadar yang diturunkan dari bus dan seorang santri yang dicurigai teroris hingga diintrogasi aparat keamanan.

Senada dengan itu Muhammad Ridho dari PII juga mengatakan hal yang sama bahwa kegiatan tersebut dilakukan untuk menepis anggapan berbagai kalangan yang mengidentikkan simbol-simbol agama dengan teroris.
Sosial Eksperimen tersebut dilakukan dengan memajang sejumlah poster seperti " Peluk saya jika anda merasa aman dengan keberadaan kami" kemudian warga Tanjungbalai memeluk mereka yang memegang poster tersebut.

Kegiatan ini berlangsung tertib dengan dikawal pihak kepolisian dan menjadi perhatian masyarakat Tanjungbalai.

Menyikapi keberanian temen-temen aktifis Kota Tanjung Balai ini Muhammad Rizkan yang juga Seorang Mantan Aktifis serta Tokoh Muda SPMA, Berharap bisa menjadi Contoh untuk Seluruh Provinsi yang ada di Indonesia,  Bahwa Islam Itu Damai dan Bukan Teroris. 

Kedepan Harapan Rizkan selaku Tokoh Muda SPMA, Masyarakat harus benar-benar teliti dan pandai dalam menyikapi berita-berita, Apalagi di musim-musim dekat pemilu, dikhawatirkan terjadinya saling fitnah memitnah. "Yah, semoga saja tidak demikian". Ujar Rizkan. 

Koordinator SPMA Unsyiah: Sudah Saatnya Balai Latihan Kerja Dibangun di Kota Lhokseumawe

On May 23, 2018

AtimNews.com | Peningkatan SDM merupakan hal penting yang harus dilakukan oleh pemerintah untuk dapat membentuk individu yang berkapasitas dengan memiliki keterampilan, keahlian , serta kemampuan kerja yang berkualitas pada sebuah usaha ataupun perusahaaan tertentu. SDM yang memiliki kapasitas akan sangat bermanfaat untuk membuat sebuah usaha atau perusahaan dapat berkembang dan mencapai tujuannya yang telah direncakan demi kemakmuran dan kemajuan sebuah usaha maupun perusahaan. Demikian disampaikan Koordinator Sekolah Pemimpin Muda Aceh (SPMA) Univeristas Syiah Kuala yang juga Wakil Ketua SPMA Pusat, Muhammad Reza Saputra. 

Peningkatan SDM akan membawa efek terhadap produktifitas seorang individu bekerja akan meningkat dimana kuantitas dan kualitasnya semakin baik, hal ini dikarenakan human skill, managerial skill serta technical skill karyawan semakin baik. "Peningkatan SDM tentu dapat meningkatkan efesiensi waktu, tenaga, bahan baku yang dipakai hingga efektifitas mesin berkerja, dengan demikian biaya produksi dapat diperkecil sehingga harga jual mampu bersaing dipasaran," jelas Reza yang juga Wakil Presma Unsyiah 2017.

Dengan adanya peningkatan SDM berdampak positif bagi karyawan akan semakin ahli dan terampil dalam berkerja baik usahanya sendiri maupun perusahaan tempat karyawan bernaung, dengan demikian kerusakan barang dan gagal produksi semakin kecil dan bahkan bisa sampai tidak ada. "Peningkatan SDM memberikan manfaat yang baik bagi masyarakat atau pelanggan karena mereka memperoleh barang yang bermutu dan pelayanan yang lebih baik," jelasnya.

Reza berpendapat bahwa pentingnya Balai Latihan Kerja di bangun tentu sangat dinantikan oleh masyarakat, terutama Balai Latihan Kerja dapat meningkatkan keterampilan masyarakat dalam menekuni bidang kerja tertentu yang pada hakikatnya dapat meningkatkan kapasitas SDM yang ada untuk dapat meminimalisir angka pengangguran yang ada di sebuah daerah dimana selama ini selalu menjadi beban pemerintah terhadap angka-angka yang ada terlepas apa yang terjadi sebenarnya dimasyarakat.

"Dengan adanya Balai Latihan Kerja dapat kita jadikan langkah efektif dalam mengatasi permasalahan penggangguran hingga meningkatkan kompetensi tenaga kerja di daerah, sehingga para peserta yang telah mengikuti pelatihan pada BLK akan memiliki pengalaman, pengetahuan tambahan, dan keterampilan kerja yang tinggi untuk dapat mengembangkan usahanya sendiri maupun perusahaan tempat dimana calon pekerja bernanung nantinya, karena Balai Latihan Kerja merupakan harapan pengusaha yang tangguh dan pekerja profesional," jelasnya.

Kota Lhokseumawe telah ditetapkan sebagai Pusat Kegiatan Nasional (PKN) dan bagian dari Kawasan Strategis Nasional sebagai Kawasan Industri Lhokseumawe sejak 10 Maret 2008 melalui Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008, sejak ditetapkan hal tersebut oleh pemerintah pusat belum pernah ada Balai Latihan Kerja berstandar nasional di kota tersebut dan baru satu tahun yang lalu Kota Lhokseumawe kembali di tetapkan sebagai Kawasan Ekonomi Khusus Arun Lhokseumawe guna mempercepat pembangunan ekonomi nasional melalui kawasan yang memiliki keunggulan ekonomi dan  geostrategis.

"Ada banyak peluang yang akan terjadi dimasa yang akan datang di Kota Lhokseumawe bekas kota petro dollar tersebut dan kita harus sudah siap dengan SDM yang kita miliki hari ini untuk dapat dimanfaatkan kedepannya sehingga kita semua harus mengatakan Sudah Saatnya Balai Latihan Kerja Dibangun di Kota Lhokseumawe," tutupnya putra Lhokseumawe ini.

Refleksi Dana Desa untuk Kebangkitan Pemuda

On May 23, 2018

oleh: Azhari (Aktivis Sosial Sekolah Pemimpin Muda Aceh (SPMA) Bireuen).

Dana desa tidak asing lagi bagi masyarakat, dana yang besar  untuk pembagunan dan pemberdayaan rakyat apalagi di era teknologi yang trasparansi sagat utama, dana desa petaka bagi pemerintahan desa atau kebahagian yang akan di rasakan untuk kebahagian aparatur desa.

Kilas balik perjuangan dana desa patut bagi segenap lapisan pemerintah desa mengevaluasi dana desa itu untuk organisasi pemuda apalagi tata kelola organisasi yang trasparansi bukan untuk magaduk bagaikan pecal untuk kepentingan kelompok sehingga uang susah di gunakan pemuda dan berbelit ini perlu ketegasan para elit dalam memperdayakan pemuda.

Berbicara pemuda pasti bayak potensi yang bisa di gali , bayak ide dan gagasan padanya sebagai agen perubahan namun sayang kadang pemuda tidak di beri ruang lingkup untuk berkiprah di desa, maka ini perlu perhatian pemerintah desa megajak para pemuda berkiprah bersama membagun desa bukan hayanya menilai sesuka membunuh karakter pemuda yang mau berkiprah bersama.

Dana desa bukan dana yang lahir dari kelompok tertentuk tapi itu dana dari rakyat untuk rakyat maka perlu pemikiran pemerintah desa untuk meng optimalkan peran bersama untuk membagun desa dan pemberdayaan pemuda agar bisa bangkit dan maju menguragi pegangguran di desa.

Pengganguran itu bisa di atasi dengan daya dan menset aparatur desa membangun bukan mencari keutungan saja tapi perlu perubahan kedepan untuk pemberdayaan bukan hanya pembagunan yang dilakukan,tapi ini perlu segera di jalankan agar organisasi pemuda di desa bisa jadi pengwarna membantu duafa.

Saatnya pemuda bekarya,mengwujudkan kepedulian untuk aparatur desa yang bermasalah, jangan salah kan tidak peduli di desa tapi kurang  peka pemimpin desa dalam berkonikasi dengan pemuda ,pilih kasih dalam pelayanan yang dekat dan kaya dia dapat.

Semoga 2018 tahun perubahan bagi semua lapisan.Saatnya karang taruna dan organisasi pemuda bangkit di desa di seluruh penjuru indonesia , untuk pemuda kita bersama dalam gagasan.
Desa impian desa dalam perubahan,rakyat sejahtera adil makmur sentosa.

PEMA UNMUHA: Dana Otsus Aceh Semakin Menipis, Pemerintah Aceh Tidak Punya Target

On May 23, 2018


AtimNews.com | Dana otsus adalah salah satu sumber pendapatan Aceh dan kabupaten/kota sebagaimana disebutkan dalam pasal 179 ayat (2c) UUPA. Meskipun disebutkan sebagai sumber pendapatan daerah kabupaten/kota, namun dana otsus tidak langsung ditransfer Pemerintah Pusat ke pemerintah kabupaten/kota, melainkan ditransfer menjadi penerimaan Pemerintah Aceh. Hal ini sesuai dengan ketentuan Pasal 183 ayat (1) UUPA, yaitu Dana Otsus merupakan penerimaan Pemerintah Aceh yang ditujukan untuk membiayai pembangunan terutama pembangunan dan pemeliharaan infrastruktur, pemberdayaan ekonomi rakyat, pengentasan kemiskinan, serta pendanaan pendidikan, sosial, dan kesehatan. Demikian disampaikan oleh Khairul Rizal, Wakil Presiden PEMA Unmuha yang juga Koordinator Sekolah Pemimpin Muda Aceh (SPMA) UNMUHA.

Menurut alumni SPMA ini, dari Pasal 183 UUPA dapat dikemukakan beberapa catatan dan tawaran solusi. Secara tersirat penguasa (pemegang kekuasaan) otonomi khusus ada pada Pemerintah Aceh. "Jika pun benar demikian, kekuasaan ini harus diartikan sebagai kewenangan mengatur, mengelola, mengawasi, dan memantau. Jadi, bukan kekuasaan untuk melaksanakan sendiri melainkan sesuai dengan selera provinsi," Jelas Khairul.

Selanjutnya menurutnya, dana otsus harus fokus ditujukan pada 6 (enam) bidang pembangunan, yaitu: infrastruktur, ekonomi rakyat, pengentasan kemiskinan, pendidikan, sosial, dan kesehatan. Sehingga, pemanfaatan dana otsus selain dari keenam bidang ini tidak sesuai dengan UUPA. "Karenanya, jika ada kasus pelanggaran/kejahatan terhadap hal ini, layak ditindaklanjuti sesuai prosedur hukum keuangan, hukum pidana dan hukum korupsi yang berlaku dengan mengacu pada asas lex superior derogat lex inferior," tegasnya.

Khairul mengatakan bahwa dana otsus memiliki masa waktu tertentu, sebagaimana ditegaskan dalam ayat (2) Pasal 183 UUPA. Yaitu, berlaku untuk jangka waktu 20 (dua puluh) tahun. Untuk tahun pertama (2008) sampai dengan tahun kelima belas (2022) besarnya setara dengan 2% dari plafon Dana Alokasi Umum Nasional (DAUN) dan untuk tahun keenam belas (2023) hingga tahun kedua puluh (2028) besarnya setara dengan 1% plafon DAUN.

"Idealnya, dalam limit waktu yang terbatas ini, Pemerintah Aceh harus lebih fokus dan terencana, sehingga kesempatan ini tidak berlalu, sia-sia," jelasnya. Karenanya, penggunaan dana otsus untuk enam program pembangunan di atas harus jelas dan terarah sesuai dengan RPJM - RPJP Aceh dan kabupaten/kota yang tertera di dalam qanun.

"Namun, sangat di sayangkan sampai tahun 2018 masyarakat aceh masih berteriak atas hak kesejahteraan nya kepada pemerintah Aceh. Di luar sana masih banyak anak-anak Aceh yang masih putus sekolah di karenakan biaya, dan masih banyak masyarakat Aceh yang masih tinggal di gubuk-gubuk," kecewanya.

Khairul mengatakan bahwa jangan sampai Aceh hancur di tangan pemimpin Aceh sendiri. Demikian tutupnya.

Potensi Konflik SARA Menjelang Tahun Politik 2018

On May 23, 2018

Muhammad Husaini Dani, Mahasiswa Ilmu Politik FISIP Unsyiah dan Alumni Sekolah Pemimpin Muda Aceh (SPMA) Unsyiah.

SARA dalam Konstelasi Demokrasi
Indonesia merupakan negeri yang multi suku, agama, dan ras, sehingga isu SARA sering menyertai artikulasi politik di berbagai tempat. Bila melihat sosio-historis maka penyertaan isu sara dalam konstelasi politik di Indonesia tidak bisa dihindarkan. Akan tetapi, perlunya penempatan dalam koridor keadaban demokrasi. Tentu jika melihat dari structural-cultural Indonesia yang memiliki keberagaman, maka momen politik kepemiluan (electoral) akan diwarnai oleh mobilisasi sentiment SARA yang diluapkan secara massif ke ruang publik. Jelas ini memperlihatkan bahwa ruang publik kita sangat sarat akan isu SARA terutama agama. 

Bagaimanapun, religiusitas merupakan hal yang mutlak dan tidak bisa dilepaskan dari konteks kemasyarakatan kita, terutama ruang publik. Namun dalam hubungan ruang publik sebagai kontes politik, unsur keagamaan dapat berarti dua sisi, sebagai perekat solidaritas dan sekaligus pemecah belah. Memang, sejarah politik di Indonesia modern hampir tak pernah lepas dari isu SARA. 

Isu tersebut, biasanya muncul ketika dimensi ruang publik sebagai ajang kontes gagasan dan program tidak berjalan semestinya. Juga ketika partai peserta pemilu tidak lagi mengedepankan visi misi dan terobosan tapi sebatas pengejaran terhadap kemenangan belaka. Isu agama dan etnis muncul ketika para kandidat dan pendukung lebih mementingkan penggapaian kekuasaan semata dibandingkan hal dasar yang harus diperjuangkan.

Menurut Habermas (1991), ruang publik pada dasarnya dibentuk oleh bangunan dialog yang egaliter dengan mengacu pada prinsip bahwa ruang publik bersifat komunikasi dua arah. Itu artinya, agenda setting isu oleh media sejalan dengan apa yang sedang diungkapkan publik sebagai kegelisahanya. Tetapi, dihembuskanya Isu SARA sebagai alat yang digunakan dalam perebutan ruang publik untuk meyakinkan pemilih membuktikan bahwa ruang publik mulai cenderung tidak egaliter. Hembusan terus-menerus akan berdampak pada tertekanya psikologis masyarakat dan memunculkan kekhawatiran dan keresahan baru, seolah-olah membenarkan narasi politik dengan berdasar pada isu SARA. Dan upaya abusif dengan kedok soliditas keagamaan dan etnisitas dalam suatu titik akumulasi akan berpotensi menciptakan ledakan sosial dan serta merta masuk dalam fase kampanye hitam. Karena penggunaan isu SARA seperti membuat suatu agitasi yang menyulut sentimen dan sisi emosional sebagian masyarakat. akibatnya, hasutan dan ujaran kebencian itu yang pada akhirnya membuat   pemilih  menjadi irrasional malah cenderung
Kampanye hitam pada dunia politik adalah sebuah upaya yang terorganisir bertujuan untuk memengaruhi proses pengambilan keputusan para pemilih dan kampanye politik selalu merujuk pada kampanye pada pemilihan umum. Kampanya hitam dapat dilakukan melalui berbagai media. 

Media elektronik, media cetak dan internet. Termasuk situs berita dan situs situs baru yang tiba tiba muncul dengan nama domain yang provokati dan tentunya tidak kredibel. Ada agenda tertentu dibalik meluasnya keresahan didasari sentimen dan hasutan, dengan harapan bahwa kelompok tertentu akan memetik keuntungan politik. Meski kita tahu bahwa tidak mudah mengkapitalisir sentimen keagamaan dan etnisitas demi politisasi atau keuntungan elektoral belaka. Argumentasi logisnya karena masyarakat kita sebenarnya sudah sangat rasional dan cukup dewasa menyikapi hembusan SARA terutama dalam ajang politik.

Isu SARA kembali mencuat dan menjadi instrumen bagi partai untuk merebut simpati masyarakat  di tengah situasi kalut dan carut marut politik, ekonomi dan sosial yang ada. Hal itu kemudian, juga mengafirmasi kecenderungan partai yang sedang mengalami minimumnya figur, agenda, peran dan fungsi ideologi. Defisit inilah yang membuat ruang publik menjadi korban, dan turut memfasilitasi ajang kampanye hitam dengan mengakumulasi bahasan-bahasan provokatif, tendensius, saling serang, termasuk isu SARA. Padahal masyarakat sudah jengah.
Isu SARA yang kembali muncul jelang pilkada 2018 dan pemilu tahun 2019, akan muncul lebih pada alasan tidak adanya visi misi yang jelas dari para peserta kontestan politik. Faktor penyebab yang lainnya adalah tidak adanya kepercayaan diri untuk bersaing secara sehat karena mereka tidak punya solusi untuk membawa keluar dari kumparan masalah yang ada. Pada akhirnya, isu SARA itu hanya membakar emosional yang berakibat timbul konflik. Jika peserta konstelasi pilkada maupun pemilu percaya diri dan punya program yang baik untuk menyejahterakan masyarakat, tentu mereka meninggalkan isu agama dan etnis.

Tawaran Alternatif
Mari kita mengembangkan sedikit analisa untuk menjawab tantangan dan persoalan yang akan berkembang sejauh ini terkait fenomena kebangkitan politik SARA di arena elektoral. Bahwa ada dua tawaran alternative yang diperlukan sebagai antidot (penawar racun) dari politik identitas (yang dalam berbagai momen elektoral menjadi sebangun dengan politik SARA). Pertama, aktualisasi nilai-nilai Pancasila. Nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila seharusnya menjadi landasan etis atau pedoman perilaku baik dan buruk masyarakat di ruang-ruang publik. 

Nilai-nilai itu terkait membentuk sistem etika di bidang politik, ekonomi, sosial-budaya, dsb. Etika Pancasila menghendaki kukuhnya persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia dalam wadah NKRI berdasarkan prinsip Bhinneka Tunggal Ika. Kampanye hitam, fitnah, isu SARA, berita bohong, dan negatif yang menyerang pribadi kontestan atau partai lain berarti melanggar etika Pancasila dan patut dikenai sangsi sosial dan politis.

Sebagai sistem etika, Pancasila seyogianya menjadi national public norm dan leading principles, baik bagi penyelenggara negara (khususnya penyelenggara pemilu), parpol, elite politik, dan masyarakat sebagai subjek politik. Sistem ini tidak hanya menjadi rambu-rambu bagi perilaku politisi, tetapi juga bagi semua pemangku kepentingan. KPU, Bawaslu, konsultan politik, serta lembaga survei politik, memiliki kewajiban moral yang sama dan berkontribusi terhadap terciptanya kualitas demokrasi yang bermartabat, demokratis, dan manusiawi.

Kedua, kebangkitan politik kelas sebagai antidot politik kelas yang berdaya signifikan dan terorganisir menjadi musuh bersama sejak rezim otoriter Orde Baru dan berlanjut pada seluruh pemain yang mendominasi arena elektoral hari ini. Karenanya kebangkitan politik SARA yang sebetulnya secara fakta telah berkelanjutan sejak hari pertama lengsernya Suharto di tahun 1998 mesti dipahami sebagai hasil "konsensus" di antara elit-elit politik penyusun rezim kapital. Konsensus tersebut mengenai alas pertarungan yang disepakati antar elit politik, sekaligus konfirmasi untuk membendung alas pertarungan yang dihindari bersama semenjak lahirnya Orde Baru: alas politik kelas yang merespon proses pembangunan kapitalisme. 

Mari mencermati lapangan pertarungan elektoral terkini, sebagai contoh pada Pilkada DKI Jakarta 2017. Unjuk rasa dan unjuk kekuatan gertakan yang diperagakan oleh mobilisasi tersebut sesungguhnya mengindikasikan beberapa hal yang perlu disoroti. Pertama, dengan fokus overdosis pada isu SARA semua pemain utama dalam arena elektoral sama diuntungkan akibat absennya pembahasan politik terkait soal kesenjangan dan keadilan sosial yang dipersoalkan warga yang menjadi korban kebijakan pemerintah dan gerak modal yang menyetir arah pembangunan kota. Pemain utama dalam pertarungan elektoral bukan hanya para kandidat calon kepala daerah, tapi juga para pemodal yang membiayai mesin politik para kontestan. Pemain lain yang penting dan telah membentuk pola dari berkali-kali pertarungan politik adalah para penyedia jasa mobilisasi. 

Mobilisasi massa dan sentimennya sebagai pemilih sangat diperlukan pada ruang elektoral sekarang ini yang nyaris tanpa pembatasan dan pengawasan ketat serta tegas soal pembiayaan aktivitas politik yang terjadi di dalamnya. Isu SARA adalah tema mobilisasi yang mudah dipopulerkan karena aspek kontroversi dan dramatiknya, tapi juga punya efek pengalihan dari isu struktural yang mendasar.

Hal kedua, pembentukan sentimen massa dengan pro kontra isu SARA sebetulnya ditujukan terutama untuk memancing blunder di antara para kontestan elektoral yang bertarung. 

Blunder tersebutlah yang diharapkan memberikan dampak signifikan dalam merebut dukungan pemilih mengambang (swing voters). Pilpres 2014 telah menjadi model penggunaan politik SARA yang tampaknya akan terus diacu, setidaknya hingga 2019. 

Implikasi dari model tersebut adalah fokus pada figur kandidat ketimbang pada program, apalagi akomodasi terhadap aspirasi kepentingan material dan struktural warga. Penekanan pada citra figur kandidat jadi orientasi untuk menggiring preferensi warga. Pilihan akan terbentang sebatas pada jenis-jenis citra tersebut: "yang sederhana", "yang tegas", "yang santun", "yang cakep" dan seterusnya. Politik elektoral lantas menjadi politik kontes kecantikan semata. Transaksi politik menjadi sangat dangkal dan tidak memberi tekanan bagi kemungkinan memaksa semacam fakta sosial untuk perbaikan-perbaikan relasi sosial antara warga dan pemerintah paska pemilihan. Bisa dipastikan bahwa bagaimana isu SARA berhenti atau berlanjut di Pilkada 2018 ini akan menjadi rujukan pada bagaimana dia dikembangkan di Pemilu 2019.

Ketiga, mobilisasi aksi massa dengan sentimen SARA, sebetulnya menunjukkan juga batas keampuhan dari politik identitas yang mengusung isu sektarian. Penggalangan animo sektarianisme – apakah dengan warna rasialisme atau agama – membutuhkan aliansi dengan kekuatan modal yang jelas memiliki agenda material yang mendesak. Agenda yang mendesak saat ini, dari sisi modal, adalah mempercepat putaran mesin pertumbuhan yang memungkinkan sirkulasi modal dari kapitalis finansial untuk disalurkan ke perluasan pembangunan sektor properti beserta infrastruktur penopangnya. Unjuk gertakan dari kelompok sektarian dengan pameran mobilisasi aksinya akan diimbangi dengan mobilisasi kelompok politik identitas lainnya yang akan bekerja membela kontestan elektoral saingannya. Artinya, tujuan utama untuk memenangkan supremasi politik dengan bendera sektarian tidak akan pernah tercapai, dan akan tetap lebih banyak dimanfaatkan untuk melayani kepentingan politisi-politisi utama di arena elektoral – yaitu motif memperkaya diri sendiri dan kelompok kepentingan ekonomi politiknya. Tentu saja yang akan terus menjadi korban adalah massa mengambang yang terpancing "baper" (terbawa perasaan) dan terlibat dalam pertikaian di sosial media yang memalukan. Padahal pertikaian di sosial media telah menjadi lahan bisnis bagi para buzzer atau pembentuk opini professional yang kini sedang naik daun – dan karenanya menjadi pihak yang dapat dibayar para politisi kontestan elektoral.

Dari ketiga poin di atas jelaslah ada fondasi ekonomi politik yang melandasi kejayaan dan kebangkitan politik identitas di atas panggung politik elektoral saat ini. Batas-batas panggung politik elektoral yang ditentukan oleh dominasi kepentingan ekonomi politik para pemodal di balik para politisi kontestan pertarungan electoral, mengakibatan arah politik SARA adalah komersialisasi sentimen massa sebagai pemilih potensial. Jadi tidaklah aneh bila semua kandidat di pilkada dan pemilu bersiasat dengan politik SARA karena sejalan dengan agenda para pemodal di balik mereka. 

Oleh karena itu selama kekuatan politik kelas belum tegak untuk mengubah batas-batas panggung pertarungan politik elektoral, maka langkah yang bisa dilakukan adalah tidak "baper" dan terpancing dalam pertikaian yang menguntungkan para penggiat politik SARA. Terkait dengan hal tersebut, kalangan dan kelompok yang tidak terlibat dalam permainan dan bisnis politik elektoral mainstream saat ini potensial menjadi kekuatan pengubah jalur pertarungan elektoral yang lebih menguntungkan rakyat ketimbang agenda pemodal atau pun pemain politik SARA dengan segala variasinya. Tentu saja syaratnya dengan berkonsolidasi dan membangun kekuatan politik alternatif
Pada dasarnya memang isu SARA tidak bisa kita lepaskan dari konstelasi baik pilkada maupun pemilu, namun isu SARA tersebut dapat kita hindari dengan tawaran altrnatif yang penulis ajukan diatas, kita berharap bahwa peserta konstelasi pilkada dan pemilu lebih baik bersaing sehat. Menghindari pecah belah, dengan cara adu program dengan lawan politik. 

Dimainkanya isu SARA tidak akan berdampak, selama masyarakat tidak terprovokasi untuk ikut-ikutan merespon lemparan isu agama dan etnis. Tinggal masyarakat menilai dan mengukur kapabilitas kandidat dari agenda perubahan yang ditawarkan apa, bagaimana mencari solusi terhadap persoalan yang terjadi. Meski momen politik merupakan kompetisi, tapi hendaknya cara berpolitik tidak harus dengan upaya hasut-menghasut dan tidak menyakiti. Harapanya, keadaban dalam berdemokrasi tetap dijunjung tinggi, sehingga kebencian antara masyarakat yang berpotensi menyulut permusuhan dan konflik horizontal itu tidak perlu terjadi. Sebab kita semua percaya bahwa masyarakat memiliki kecerdasan.

Kita berharap, pesta demokrasi pada 2018 ini dan 2019 menjadi pesta demokrasi dan ajang kontestasi yang elegan dan bermartarbat, diselenggarakan dengan penuh kegembiraan. Betapa pun kerasnya kompetisi, jangan sampai itu merobohkan bangunan rumah bersama, bernama Indonesia. Pihak yang menang semestinya menjadi the great winner tanpa niat menyengsarakan pihak lain. 

Sementara itu, pihak yang kalah seyogianya menjadi the good loser, mau menerima kekalahan dengan lapang dada dan siap bekerja sama. (Openi)

BABINSA BANTU PETANI CABUT BENIH BIBIT PADI SIAP TANAM

On May 23, 2018

ATIMNEWS.COM | BIEREUN - Babinsa Pos Ramil Jeumpa jajaran Kodim 0111/Bireuen Serda Edi Suratman membantu mencabut benih bibit padi yang sudah siap tanam milik Ibu Mariani umur 37 tahun dengan luas sawah 5500 meter bertempat di Desa Gelumpang Payong Kecamatan Jeumpa Kabupaten Bireuen, Rabu (23/05/2018).

 
Pada saat kegiatan berlangsung Serda Edi Suratman mengatakan"  Benih bibit yang lahan sudah ditanam seluruhnya menggunakan benih bibit jenis Ciherang.


 "Kami berharap bahwa di Bulan Mei sampai dengan Juni ini, lahan sawah sudah dapat tertanam seluruhnya, sehingga masa panen tepat sesuai yang diharapkan," sebutnya.

Pemilik lahan sawah Ibu Mariani merasa senang dan terbantu dengan kehadiran bapak Babinsa kali ini yang ikut memberikan pendampingan kepada petani. 

Mudah-mudahan kegiatan seperti ini dapat terus berlanjut sehingga petani dapat maju dan sejahtera.

Selain itu diharapkan saat panen nanti hasilnya memuaskan,agar petani sejahtera dan swasembada pangan dapat terwujud. Sebagaimana fungsi Pembinaan Teritorial.

Danos Jeumpa Pelda Saipul menyampaikan," Kinerja Babinsa dan para petani yang terus berusaha mengembangkan sektor pertanian yang sangat baik sehingga masyarakat betul-betul sejahtera dan setiap program dapat terus berjalan sesuai yang di harapkan".Pungkasnya. (Dima)

Kapolres Safari Di Darul Aman

On May 22, 2018

AtimNews.com | Aceh Timur - Memasuki hari ke 6 (enam) pelaksanaan puasa di Bulan Ramadhan 1439. H, KapolresAceh Timur AKBP Wahyu Kuncoro, S.I.K, M.H bersama Wakapolres Kompol Apriadi, S. Sos, M.M, Kabag Sumda Kompol Sri Sujarwo, Kasat Sabhara AKP Ahmad YaniKasat, Binmas Iptu Azman, M.A, S.H, M.H, Kasat Narkoba Iptu Hendra Gunawan Tanjung, S.H, Kasat Lantas Iptu Ritian Handayani, S.I.K dan Kasat Pol Air IptuPidinal Limbong melakukan Safari Ramadhan sekaligus silaturahmi dan buka puasa bersama di Polsek Darul Aman, Selasa (22/05/2018).

Kapolres Aceh Timur beserta rombongan tiba di Polsek Darul Aman sekira pukul 17.45 WIB disambut langsung oleh Forum Komunikasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam) Peureulak Timur diantaranya: Plt. Camat Darul Aman, T. Muyazir, S.T.P, Kapolsek Darul Aman, AKP MAsri Aswar, Danramil 06/DAM, Kapten Inf. Irwansyah serta sejumlah Tokoh Agama diantaranya, H. Ramli (Walidi), Tgk. M. Yunus, Tgk.Muda Wali, pra tokoh masyarakat, tokoh pemuda dan  perangkat gampong yang ada di wilayah Darul Aman.

AKBP Wahyu Kuncoro mengawali sambutanya terlebih dahulu memperkenalkan dirinya sebagai Kapolres Aceh Timur yang selanjutnya disampaikanya bahwa situasi kamtibmas di wilayah hukum Polres Aceh Timur hingga saat ini cenderung relatif aman dan kondusif, hak ini tidak lepas dari peran serta masyarakat termasuk warga Darul Aman yang ikut menjaga situasi yang demikian. Kami dari TNI/Polri tidak bisa bekerja sendirian tanpa peran serta masyrakat. Jelas Kapolres Aceh Timur.

Disinggung pula bahwa AcehTimur saat ini bisa dibilang darurat narkotika, hal ini terlihat saat dirinya menjabat Kapolres Aceh Timur baru 2 (dua) hari anggotanya berhasil menggagalkan peredaran narkotika sebanyak 19 kilogram.

"Ini bukti bahwa Aceh Timur bukan lagi daerah transit narkotika, melainkan sudah menjadi target peredaran, untuk itu awasi secara seksama anggota kelurganya agar tidak terjerumus narkotika, apapun jenisnya, pintanya.
Usai buka bersama, Kapolres Aceh Timur didampingi Wakapolres, Kapolsek Darul Aman dan Ketua Ranting Bhayangkari Darul Aman memebrikan santunan kepada anak yatim piatu dari Panti Asuhan Gampong Matang Geuto.

Selanjutnya Kapolres bserta rombongan melaksanakan Sholat Isya berjama'ah di Mesjid Raudhtul Jannah, Gampong Grong-grong. Sebelum Sholat Tarawih berlangsung Kapolres Aceh Timur diberi kesempatan untuk menyampaikan pesan-pesan kamtibmas.

Kepada jam'ah, Kapolres Aceh Timur mengajak agar bulan puasa ini untuk bertabayyun, yang bisa kita maknai untuk mengkoreksi diri oleh karena itu, mari kita pererat tali silaturahmi dengan salin tolong menolong dan mengingatkan satu dengan yang lain, agar tercipta lingkungan yang aman, nyaman dan damai. Terangnya.

Kepada para jama'ah, khususnya para adai-adik remaja, berhati-hatilah dalam menggunakan smart phone maupun gadged saat berkomunikasi di media sosial, karena saat ini banya informasi-informasi yang tidak benar atau Hoax, jangan sekali-sekali men-share berita/informasi yang belum tentu benar, meskipun benar saja itu merupakan ghibah, apalagi tidak benar sudah pasti itu fitnah, untuk itu kami mohon dalam menggunakan smart phone untuk lebih berhati-hati. Himbau Kapolres Aceh Timur.

Terakhir Kapolres Aceh Timur menyampaikan pesa-pesan kamtibmas kepada jama'ah yang hadir, khususnya bagi ibu rumah tangga untuk lebih berhati-hati terutama saat usai memasak, sebelum  berangkat ke mesjid atau meunasah, pastikan api sudah tidak menyala lagi sehingga terhindar dari kebakaran, seperti yang terjadi di Peudawa dan Idi Rayeuk beberapa hari yang lalu. Selain itu pihaknya menitip pesan kepada seluruh warga Darul Aman untuk tetap waspada terhadap segala bentuk tindak kriminal terutama pencurian sepeda motor (curanmor). Pungkas Kapolres Aceh Timur, AKBP Wahyu Kuncoro, S.I.K, M.H. (Romy)

PWO IndependeN Banten Resmi Terima SK

On May 22, 2018

AtimNews.com | Jakarta – Perkumpulan Wartawan Online [PWO] Independen NUSANTARA, kembali memberikan Surat Keputusan [SK] kepada PWO IndependeN Provinsi Banten. Penyerahan tersebut langsung diberikan oleh Ketua Umum PWO Independen NUSANTARA, Dra. Marnala Emi Manurung kepada Ketua PWO IndependeN Provinsi Banten, Jonatan Suyitno,S.Sos dan disaksikan oleh Ketua Dewan Pembina Dr. Suherman Saji S. Pd, M. Pd, di Kafe Rumah Genjing, Jakarta Pusat, Selasa [22 Mei 2018]. 

Sebelum dilakukan penyerahan SK PWO IndependeN Banten, ketua dan pengurus PWO IndependeN Banten mendapatkan pencerahan dari Ketua Umum PWO Independen NUSANATARA, dan Ketua Dewan Pembina. Dalam kesempatan tersebut turut hadir Ketua Umum Ikatan Penulis dan Jurnalis Indonesia [IPJI], H. Taufiq Rachman, SH.S.Sos serta Wakil Sekretaris Jenderal  [Wasekjen]  Nasir Umar, dan dilanjut dengan Berbuka Puasa Bersama. 

Dikatakan Ketua Umum PWO Independen NUSANTARA dalam pertemuan tersebut, PWO IndependeN Banten harus berkibar.

"Provinsi Banten ada sekitar dua belas Kabuipaten dan Kota, kibarkan panji-panji PWO Independen di seantero Banten. Fungsikan komposisi struktur yang ada agar roda organisasi ini dapat berjalan sesuai rel-nya,"kata Marnala yang mengenakan kerudung berwarna biru serta dibalut dengan kemeja biru itu, nampak terlihat anggun.

Sementara itu, Dr. Suherman Saji S. Pd, M. Pd, mengatakan PWO Independen dalam penyajian berita harus berpegangan kepada 5 W 1 H, agar berita yang disajikan benar-benar akurat dan tepat sasaran.

"Berita yang disajikan kepada masyarakat harus benar-benar yang akurat berdasarkan 5 W 1 H. Seorang wartawan ketika mendalami sebuah peristiwa seperti peristiwa yang terjadi, tempat peristiwa itu terjadi, waktu dan peristiwa yang terjadi, pelaku peristiwa, latar belakang peristiwa itu terjadi serta yang terakhir adalah HOW, bagaimana proses peristiwa itu sampai terjadi, ini menjadi dasar seorang wartawan,"papar Suherman yang juga Rektor di Universitas Attahiriyyah, Jakarta.

Lebih lanjut Suherman mengatakan yang sangat utama bagi wartawan online harus pelajari  serta memahami  Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik [UU ITE] , artinya agar tidak terjebak dalam pemberitaan yang disajikan kepada publik. 

" Didalam UU ITE No 19 Tahun 2016 sangat jelas serta menghindari multitafsir, didalam pasal 27 ayat (3) dalam perubahan UU  ITE menegaskan ketentuan tersebut adalah delik aduan, sebab ada unsur pidana yang  mengacu pada ketentuan pencemaran nama baik dan fitnah yang diatur dalam KUHP,"kata Suherman.

Dikatakan Suherman, Masyarakat sekarang ini cenderung percaya dengan pemberitaan yang ada. Karena Masyarakat kita sekarang sudah dewasa dalam menerima pemberitaan melalui online, "Bahkan bisa dibilang 50-50. Saya berharap PWO Independen harus dapat melawan berita-berita Hoax,"pinta Suherman.

Sementara itu, Wasekjen IPJI Nasir Umar mengatakan, dirinya sangat mengapresiasi keberadaan PWO Independen. "Seiring jaman, keberadaan PWO Independen sangat di dominasi oleh wartawan muda yang tergabung di PWO Independen dan ini sudah pas di era digital sekarang ini.,"terang Nasir disela-sela penyerahan SK PWO IndependeN Banten.

Namun demikian, Nasir mengatakan PWO Independen harus memiliki jaringan disemua lini, agar tak ketinggalan berita. "Jaringan komunikasi harus di kedepankan di dalam organisasi PWO ini, baik di Kementerian, Kepala Daerah, SKPD, TNI dan Polri. Mengapa demikian, karena kita butuh berita yang update,"terang Nasir yang di damping H. Taufiq Rachman, SH.S.Sos.

Selain itu Nasir menegaskan bahwa hadirnya PWO Independen NUSANTARA atas insiator beberapa anggota pengurus di DPP IPJI. Artinya hanya sebatas hubungan emosional. "Jadi PWO berdiri sendiri, bukan dibawah lembaga IPJI.  Jadi masalah organisasi  tidak ada kaitan baik secara vertikal maupun horizontal apalagi intervensi ,"terangnya [yani]

Rahmat Asri Sufa beri Tausiah di Gampong Bugak Blang Kecamatan Jangka

On May 22, 2018

AtimNews.com | Bireuen - Rahmat Asri Sufa, Tokoh muda asal Aceh di Medan berkunjung ke beberapa gampong di Kabupaten Bireuen. Kunjungan ini dalam rangka safari ramadhan yang dilaksanakan sebanyak 20 malam di Kabupaten Bireuen. Tim Safari Ramadhan Aneuk Nanggroe dengan tema saweu gampong terus menggalakkan dakwah, dan malam ini berkesempatan di Gampong Bugak Blang.

Menurut Rahmat Asri Sufa yang bertindak sebagai penceramah mengungkapkan bahwa kegiatan ini tidak lebih yaitu saweu gampong, " Iya, safari ramadhan ini untuk saweu gampong bagi kami yang sudah merantau menuntut ilmu di luar daerah, sebagai putra daerah wajar saja kami pada momen ramadhan ini melakukan safari dakwah ke berbagai Gampong di tanah kelahiran kami", ujar Rahmat Asri Sufa

Bendahara Tamaddun Institute ini pun menambahkan, " masih ada 17 malam lagi kunjungan yang kami lakukan, insyaallah masyarakat bisa menerima dengan legowo kedatangan kami", tegas Pemuda asal Peusangan ini

Diakhir ceramah, Rahmat Asri Sufa berpesan kepada masyarakat khususnya pemuda di Gampong Bugak Blang, " pemuda harus bangkit, pemuda harus berani berdakwah, baiknya bangsa ini tergantung baik atau tidaknya pemuda hari ini. Insyaallah dengan menjalankan syariat Islam secara kaffah, Nanggroe Aceh akan lebih baik", tutup Ketua DPC GMD Bireuen ini. (Jeni)

Kapolres Aceh Timur Safari Ramadhan Di Julok

On May 22, 2018

AtimNews.com | Aceh Timur - Memasuki hari ke 5 (lima) pelaksanaan puasa di Bulan Ramadhan 1439. H, KapolresAceh Timur AKBP Wahyu Kuncoro, S.I.K, M.H bersama Wakapolres Kompol Apriadi, S. Sos, M.M, Kabag Sumda Kompol Sri Sujarwo, Kasat Sabhara AKP Ahmad YaniKasat, Binmas Iptu Azman, M.A, S.H, M.H, Kasat Narkoba Iptu Hendra Gunawan Tanjung, S.H dan Kasat Pol Air IptuPidinal Limbong melakukan Safari Ramadhan sekaligus silaturahmi dan buka puasa bersama di Polsek Julok, Senin (21/05/2018).

Kapolres Aceh Timur beserta rombongan tiba di Polsek Julok sekira pukul 17.45 WIB disambut langsung oleh Forum Komunikasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam) Peureulak Timur diantaranya: Camat Julok Zainuddin, S.E, Kapolsek Peureulak Julok Ipda Eko Hadianto, S.E, M.H, Danramil 10 Julok, Lettu Inf. Hariono bseserta sejumlah Tokoh Agama, Tokoh Masyarakat, Tokoh Pemuda dan  perangkat gampong yang ada di wilayah Julok.

Dalam Sambutanya, Camat Julok, Zainuddin, S.E mengucapkan selamat datang di Julok yang selanjutnya menyampaikan letak geografis wilayahnya.

Sementara itu AKBP Wahyu Kuncoro mengawali sambutanya terlebih dahulu memperkenalkan dirinya sebagai Kapolres Aceh Timur yang selanjutnya disampaikanya bahwa situasi kamtibmas di wilayah hukum Polres Aceh Timur hingga saat ini cenderung relatif aman dan kondusif, hak ini tidak lepas dari peran serta masyarakat termasuk warga Julok yang ikut menjaga situasi yang demikian. Kami dari TNI/Polri tidak bisa bekerja sendirian tanpa peran serta masyrakat. Jelas Kapolres Aceh Timur.

Disinggung pula bahwa AcehTimur saat ini bisa dibilang darurat narkotika, hal ini terlihat saat dirinya menjabat Kapolres Aceh Timur baru 2 (dua) hari anggotanya berhasil menggagalkan peredaran narkotika sebanyak 19 kilogram.

"Ini bukti bahwa Aceh Timur bukan lagi daerah transit narkotika, melainkan sudah menjadi target peredaran, untuk itu awasi secara seksama anggota kelurganya agar tidak terjerumus narkotika, apapun jenisnya, pintanya.
Usai buka bersama, Kapolres Aceh Timur melaksanakan Sholat Isya berjama'ah di Mesjid Al-Kubra, Kuta Binje. Sebelum Sholat Tarawih berlangsung Kapolres Aceh Timur diberi kesempatan untuk menyampaikan pesan-pesan kamtibmas
Kepada jam'ah, Kapolres Aceh Timur mengajak agar bulan puasa ini untuk bertabayyun, yang bisa kita maknai untuk mengkoreksi diri oleh karena itu, mari kita pererat tali silaturahmi dengan salin tolong menolong dan mengingatkan satu dengan yang lain, agar tercipta lingkungan yang aman, nyaman dan damai. Terangnya.

Kepada para jama'ah, khususnya para adai-adik remaja, berhati-hatilah dalam menggunakan smart phone maupun gadged saat berkomunikasi di media sosial, karena saat ini banya informasi-informasi yang tidak benar atau Hoax, jangan sekali-sekali men-share berita/informasi yang belum tentu benar, meskipun benar saja itu merupakan ghibah, apalagi tidak benar sudah pasti itu fitnah, untuk itu kami mohon dalam menggunakan smart phone untuk lebih berhati-hati. Himbau Kapolres Aceh Timur.

Terakhir Kapolres Aceh Timur menyampaikan pesa-pesan kamtibmas kepada jama'ah yang hadir, khususnya bagi ibu rumah tangga untuk lebih berhati-hati terutama saat usai memasak, sebelum  berangkat ke mesjid atau meunasah, pastikan api sudah tidak menyala lagi sehingga terhindar dari kebakaran, seperti yang terjadi di Peudawa dan Idi Rayeuk beberapa hari yang lalu. Selain itu pihaknya menitip pesan kepada seluruh warga Julok untuk tetap waspada terhadap segala bentuk tindak kriminal terutama pencurian sepeda motor (curanmor). Pungkas Kapolres Aceh Timur, AKBP Wahyu Kuncoro, S.I.K, M.H. (Romy)

Ridha Aulia: Pola Pendidikan di Aceh Harus Dikaji Ulang

On May 22, 2018


AtimNews.Com | Banda Aceh - Aktivis pendidikan dari Sekolah Pemimpin Muda Aceh (SPMA) Universitas Syiah Kuala, mengatakan bahwa Pola Pendidikan di Aceh dan di Indonesia harus di kaji ulang. "Jika dilihat dari keadaan dan situasi yang dilapangan saat ini, banyak sekali terjadi tindakan-tindakan yang memalukan di negeri ini seperti korupsi, suap dan masih banyak lagi," tegasnya. Menurut aktivis muda ini, dirinya menyatakan ada keanehan dimana para pelaku tindakan kejahatan tersebut adalah orang-orang pintar dan berintelektual yang bergelar sarjana dari berbagai lulusan universtas yang ternama. "Melihat fenomena-fenomena yang terjadi saat ini, sangat di sayangkan dengan pola pendidikan formal di Indonesia dan semestinya harus dikaji ulang," katanya.

Pola pendidikan formal saat ini hanya mengajarkan ilmu-ilmu dunia sehingga banyak menghasilkan orang-orang pintar tetapi sayangnya mereka tidak terdidik dan memiliki akhlak yang baik dang budi pekerti yang baik. Akibatnya orang-orang pintar tersebut malah menjadi orang yang bejat akannya haus kekuasaan. "Padahal seharusnya merekalah yang menjadi penolong dan pemimpin yang baik untuk menciptakan kemaslahatan bagi orang banyak," jelasnya.

Menurutnya, saat ini banyak sekali orang-orang yang berpendidikan tinggi dan mengaku beragama, tetapi tindakan mereka sangat memalukan dan meresahkan masyarakat. Contohnya adalah, para dewan yang ''katanya'' terhormat banyak yang tertangkap tangan melakukan korupsi atau penyuapan. Parahnya lagi tindakan tersebut dilakukan bersama-sama dengan teman-teman mereka yang juga "katanya" terhormat. 

"Yang lebih miris saat mereka tertangkap oleh pihak yang berwajib, mereka malah dengan tenang dan melemparkan senyum yang lebar kepada masyrakat. Seolah-olah mereka senang dengan apa yang mereka perbuat. Bukankah mereka malu dengan tindakan tersebut, apakah mereka tidak mengetahui atau tidak pernah diajari bahwa memakan uang yang bukan haknya adalah perbuatan dosa dan haram hukumnya bagi mereka dan keluarganya," tegasnya.

"Memang mereka itu sudah kehilangan akal sehat dan putus sudah urat malunya dan bahkan saat melakukan kesalahpun seperti biasa-biasa saja terhadap tingkah laku mereka," tambah Ridha. Bahkan ada saja orang yang jelas-jelas terjerat kasus korupsi yang menjadi ketua atau pemimpin suatu instansi. "Bukankah ini sangat memalukan?," tanya nya.

Oleh sebab itu, sistem pendidikan formal yang ada saat ini harus segera direvisi atau direnovasi dengan tidak hanya mementingkan hasil, tetapi lebih mementingkan suatu proses untuk mencapai suatu keberhasilan agar tidak lagi mencetak orang-orang pintar yang memintari, bukannya orang-orang pintar yang mendidik.
Pendidikan adalah sebuah tahapan terukur untuk menggapai level kehidupan sosial yang lebih baik. Tanpa pendidikan sulit bagi siapapun untuk dapat memperbaiki level kehidupan yang mereka tempati karena minimnya bekal atau landasan akademis dimana hal tersebut sangat dibutuhkan oleh manusia dalam proses menuju tempat yang lebih baik.
Jika kita melihat ke sekeliling kita, realitanya memang tidak semua orang yang memiliki background pendidikan baik bisa meraih kesuksesan. Dan disisi lain, banyak juga sekumpulan orang tanpa riwayat pendidikan yang baik justru bisa menikmati level kehidupan yang lebih mapan, namun secara teori orang yang dibekali dengan ilmu jauh lebih berpeluang untuk menjadi orang sukses.

Segala sesuatu membutuhkan proses, dan selama proses tersebut sedang berjalan manusia diharuskan untuk memperkaya diri dengan bekal-bekal atau landasan yang dapat mengarahkan mereka pada keberhasilan, dan disinilah fungsi pendidikan akan memberikan andil untuk membantu manusia menuju jenjang keberhasilan yang diimpikannya.

Teori adalah sebuah tolak ukur untuk menganalisa sejauh mana seseorang dapat melangkah. Takdir Tuhan memang senantiasa menyertai kehidupan manusia, namun terlepas dari ketentuan takdir, manusis dituntut untuk memperkaya ilmu guna memudahkan perjalanannya untuk menuju gerbang kesuksesan. "Dengan mengikuti proses pendidikan, maka manusia akan diberikan bimibingan, dorongan, teori, dan sejumlah hal prioritas yang mereka perlukan," tutupnya. (Rls)

DEMA UIN Ar-Raniry: 20 Tahun Reformasi, Indonesia Kembali ke Orba

On May 22, 2018


AtimNews.com | Banda Aceh - DEMA UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Sekjen Agus Junaidi mengatakan bahwa Reformasi yang ke 20 Tahun, tepatnya pada tanggal 21 Mei 2018, sungguh sangat menjadi prihatin bersama warga/rakyat Indonesia. "Kenapa? Karena Indonesia sudah kembali ke rezim Soeharto 80 % pada masa sekarang," jelasnya.

Dimana masyarakat merasakan ketidakmampuan pemerintah dalam menjaga stabilitas perekonomian negara, anjloknya nilai tukar rupiah, tenaga kerja asing semakin membanyak, BBM sangat mencekit masyarakat dan masih banyak hal lain lagi.

"Apalagi seperti kita lihat pada hari Senin 21 Mei 2018 tepatnya 20 Tahun Reformasi, di setiap daerah adanya terjadi aksi demo yang di lakukan oleh mahasiswa untuk menyuarakan suara rakyat, tegasnya.

Tetapi apa yang terjadi, malah mahasiswa yang menyuarakan suara rakyat diberlakukan seperti sekelompok penjahat oleh pihak keamanan (polisi), "bukankah kita tahu semua bahwa polisi tidak berhak memperlakukan kekerasan terhadap orang yang tidak bersalah," kecamnya.

Ini memang sudah hampir terjadi lagi seperti rezim Soeharto, dimana yang melakukan demo itu di tendang, ditembak bahkan ada yang meninggal dunia.

"Apakah 20 tahun yang lalu harus terjadi lagi pada masa sekarang?? Kalau memang harus maka kami mahasiswa dari sabang sampai Meurauke siap untuk turun membela hak rakyat dan menuntuk pemerintah atas tindakan yang sudah dilakukan saat ini," tutupnya. (Rls)

Seleksi JPT Pratama Di Aceh Timur Dibuka

On May 22, 2018

AtimNews.com | Aceh Timur -- Setelah mendapat persetujuan dari Komisi Aparatur Sipil Negara (KASN), Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Aceh Timur secara resmi membuka pendaftaran seleksi terbuka Jabatan Pimpinan Tinggi (JPT) Pratama.

 

Pendaftaran seleksi terbuka JPT Pratama Kabupaten Aceh Timur ini terhitung 23 Mei hingga 8 Juni 2018. Dibukanya pendaftaran seleksi tersebut berdasarkan Pengumuman Panitia Seleksi Terbuka Jabatan Pimpinan Tinggi Pratama Kabupaten Aceh Timur Nomor 800/02/PANSELJPT/2018 tentang Seleksi Terbuka  JPT Pratama tertanggal 21 Mei 2018.

 

Sekretaris Daerah Kabupaten Aceh Timur M. Ikhsan Ahyat, S.STP, M.AP, mengatakan, bahwa seleksi terbuka JPT Pratama dilingkungan Pemerintah Kabupaten Aceh Timur dibuka sebanyak dua belas jabatan  Esselon II.b yaitu Sekretaris Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten, Kepala Dinas Kesehatan, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan penyuluhan, Kepala Dinas Perindustrian, Tenaga Kerja dan Transmigrasi dan Kepala Dinas Lingkungan Hidup.

 

Selanjutnya, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika, Kepala Dinas Perikanan, Kepala Dinas Pertanahan, Kepala Badan Pengelolaan Keuangan Daerah, Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah, Kepala Satuan Polisi Pamong Praja dan Wilayatul Hisbah (Kasatpol-PP&WH) dan dan Kepala Dinas Pendidikan Dayah.

 

"Pengumuman ini kemudian disampaikan kepada seluruh OPD di unit kerja masing-masing untuk menyampaikan pengumuman ini secara terbuka kepada seluruh ASN yang berminat dan telah memenuhi syarat agar ikut ambil bagian mendaftarkan diri," ujar sekda.

 

Adapun jadwal dan seleksi terbuka yakni pengumuman  dan pendaftaran dimulai dari 23 Mei s/d 8 Juni 2018. Uji Kompetensi (Assesment Test) berlangsung 25 s/d 26 Juni 2018. Sementara Wawancara dan Rekam Jejak dimulai 04 s/d 05 Juli 2018 serta penetapan 3 orang terpilih dilakukan 11 Juli 2018.

 

"Sementara penyampaian hasil seleksi JPT Pratama kepada pejabat pembina kepegawaian tanggal 13 Juli 2018 dan laporan hasil seleksi dijadwalkan pada tanggal 16 Juli 2018 mendatang ke KASN," tutur M. Ikhsan Ahyat seraya menandaskan, untuk informasi selengkpanya dapat diakses melalui website www.acehtimurkab.go.id. (romy)

Jalan Amblas/Relas Kec Pegasing Dan Kec Linge

On May 21, 2018

AtimNews.com | Takengon, Senin 20 Mei 2018, Badan jalan di KM 21 jalur Takengon-Isaq tertimpa longsoran sepanjang 25 meter, mengakibatkan transportasi di rute tersebut tersendat, Kejadiannya sekira pukul 04.00 dinihari.

"Sebuah truk sempat terserempet material longsoran, namun tidak ada korban jiwa," tambah Jahidin yang pagi itu bersama ASN kantor Camat Linge akan menuju lapangan Setdakab untuk menghadiri upacara Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2018.

"Kita sudah berkordinasi dengan BPBD dan menurut humasnya sedang mempersiapkan bergerak ke lokasi," ujarnya lagi. Camat juga mengatakan bahwa saat beliau di lokasi sudah banyak warga yang akan melintasi jalur tersebut. "Untuk roda dua harus diangkat beramae-rame. Sementara roda 4 belum bisa," katanya via telepon selulernya.

Sedangkan untuk Jalan Takengon-Jagong Muhammad Rizkan selaku Tokoh Muda SPMA Aceh Tengah, yang berada Langsung dilokasi kejadian Menghimbau kepada Masyarakat pengguna jalan agar berhati-hati dalam berkendara Sebab jalan rusak dan licin. 

"Saya berharap jalan yang amblas secepatnya diperbaiki, agar akses masyarakat tidak terhalang, Apalagi   Ada 3 Kecamatan yang harus melalui jalan tersebut yang menjadi jalur Utama,  tidak ada jalur alternative". Ujar Rizkan

Sementara itu, Tokoh Muda SPMA ini juga bertanya kepada masyarakat sekitar kapan terjadinya longsor, Masyarakat menjawab prakiraan terjadinya longsor di Linung Ayu sekitaran Pkl 20,00 tepatnya Senin malam.

InsyaAllah untuk hari ini Jalan akan diupayakan bisa dilewati oleh masyarakat, dengan kerjasama masyarakat dan unsur terkait. 

Muhammad Rizkan beserta masyarakat pengguna jalan lain berharap, perbaikan jalan jangan hanya sekedarnya saja, khawatir longsor dapat terjadi kembali bila tidak betul - betul pengerjaannya, sebab  hampir disepanjang jalan yang mengarah Kec Atu lintang Dan Kec jagong ini rawan longsor. (Red)

Longsor di Km 21, Jalur Takengon-Isaq Tersendat

On May 21, 2018

AtimNews.com | Takengon - Badan jalan di KM 21 jalur Takengon-Isaq tertimpa longsoran sepanjang 25 meter, mengakibatkan transportasi di rute tersebut tersendat. Kejadiannya sekira pukul 04.00 dinihari  tadi, lapor Camat Linge Drs Jahidin langsung dari lokasi, Senin jam 7.00 pagi (20/5).

"Sebuah truk sempat terserempet material longsoran, namun tidak ada korban jiwa," tambah Jahidin yang pagi itu bersama ASN kantor Camat Linge akan menuju lapangan Setdakab untuk menghadiri upacara Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2018.

"Kita sudah berkordinasi dengan BPBD dan menurut humasnya sedang mempersiapkan bergerak ke lokasi," ujarnya lagi. Camat juga mengatakan bahwa saat beliau di lokasi sudah banyak warga yang akan melintasi jalur tersebut. "Untuk roda dua harus diangkat beramae-rame. Sementara roda 4 belum bisa," katanya via telepon selulernya.

 *Takengon-Jagong Juga Macet, Longsor di Linung Ayu* 

Sementara itu, Camat Pegasing Drs Muslim juga melaporkan bahwa rute jalan Takengon-Jagong, tepatnya di Linung Ayu terjadi longsor pada Minggu (19/5) malam sekira jam 20.00. Unsur Muspika Pegasing yang pada malam itu akan bersafari ramadhan ke Lukup Badak dan sekitarnya sempat urung hadir. Jam 22.00 total jalan tak bisa dilewati, kata Drs Muslim. Pihak dari BPBD juga sudah dikordinasi.(Mahbub/RKN )

Menjadi Wartawan itu Gampang, Tapi Bukan Pekerjaan Gampangan

On May 21, 2018

AtimNews.com | Jakarta - Menekuni profesi sebagai wartawan jangan timbul penyesalan. Menjadi wartawan seperti wisatawan yang asik menikmati panorama alam yang indah.

Bedanya wartawan berwisata dari satu peristiwa dan fakta kepada peristiwa dan fakta lain secara mengasikkan.
Sesesorang terlanjur mencintai profesi kewartawanan timbul penyesalan mengapa tidak sejak sekarang menjadi wartawan.

Menikmati kehidupan tidak monoton. Bisa bertemu siapa saja mulai dari tukang sirih sampai presiden.
Wartawan senior, MS.Bahri, Redaktur Majalah Marketing, Nara sumber di Palatihan–pelatihan jurnalistik dan penulis buku tentang Jurnalistik mengatakan,

Sumpah ! menjadi wartawan itu gampang. Siapa pun bisa jadi wartawan. Profesi ini , bukan warisan, bukan penyakit keturunan. Pun bukan untuk mereka yang mengantongi indeks prestasi akademik nyaris sempurna.

Menjadi wartawan tidak perlu menunggu jadi sarjana. Bukan gelar yang jadi ukuran kemampuan seseorang menjadi wartawan profesional. Memang baik berpendidikan tinggi, namun jauh lebih baik berwawasan luas dan berpengetahuan tinggi, papar MS. Bahri. Senin, 21 Mei 2018.

Ternyata MS. Bahri pun sudah membuktikannya, betapa mudahnya proses menjadi wartawan. " Gampang jadi wartawan, meski pekerjaan wartawan bukan pekerjaan gampangan. Jadi yang gampang itu tahapan menjadi wartawannya. Selama menjalani profesi ini, itu yang tidak gampang", kata MS. Bahri yang memulai karier wartawan sejak duduk di bangku kelas 2 SMA, sebagai reporter rubrik TRISULANEWS.

Profesi seorang wartawan bertujuan mengumpulkan dan menulis berita agar dapat dimuat didalam surat kabar atau disiarkan melalui media elektronik.

Profesi ini dianggap unik. Mengapa demikian?. Karena menyatunya cara kerja seorang intelektual dengan pekerja lapangan, antara pekerjaan berpikir dengan pekerjaan tangan, antara otak dan otot.

Seorang wartawan harus turun ke lapangan untuk mendapatkan fakta yang akurat, mengendus sumber fakta paling utama, primer. Berbelanja sendiri tidak boleh diwakilkan dan memasak sendiri ( Bahan-bahan berita diolah sendiri) untuk dikirim ke media cetak (koran, tabloid atau majalah) atau media elektronik .

Meskipun begitu ada dua pandangan yang saling bertentangan. Satu pihak menganggap wartawan sebagai pekerjaan tidak menarik, tidak terhormat dan tidak menghasilkan cukup banyak uang, sehingga ada secara sinis mengatakan, " Seorang wartawan bukanlah seorang pria yang menarik untuk diambil menjadi menantu". *(KASIHAN YA MS. BAHRI)*

Tetapi ada pula pihak yang menganggap, justru sebagai suatu profesi yang sangat menarik, menantang dan sangat terhormat karena seorang wartawan yang bertanggung jawab senantiasa mengutamakan kepentingan orang banyak dalam melaksanakan tugasnya.

Sekarang berada di pihak manakah anda ? . Wartawan disebut juga agen pembaharuan, sebagai jembatan, media, yang menghubungkan antara fakta dan pembaca melalui pesan yang diperoleh dari sekumpulan fakta kehadapan sidang pembaca. Pesannya harus utuh, tidak ditambah, tidak dikurangi, tidak dimanipulasi.

Terlepas suka atau tidak suka, di era informasi kini dengan tranformasi informasi yang begitu cepat disajikan media cetak, elektronik dan media-media online yang tumbuh bak jamur di musim hujan, setiap jam dan bahkan setiap menit diburu pembaca yang ingin tahu apa yang terjadi di dunia, didalam negeri, di luar negeri, juga dikampung halamannya bagi yang merantau.

Informasi yang tersaji berbentuk berita, opini, dan lainnya bisa kita nikmati karena adanya profesi wartawan. Itu mungkin fakta keseharian yang tak terbantahkan. Allahu'alam. (MS. BAHRI)