AtimNews.com, ACEH TIMUR - Irigasi Mon Jiem-jiem Alue Bu Alue Nireh, Kecamatan Peureulak Timur Aceh Timur rusak sejak lama masyarakat di lima Gampong kesusahan saat turun ke sawah.
Keuchik Gampong Alue Bu Alue Nireh Ibrahim saat diwawancarai media pada Senin (3/2/2025), menjelaskan bahwa irigasi tersebut dibangun tahun 1980, irigasi itu dibangun dengan tiga pintu pengairan untuk kebutuhan lima desa. Terdiri dari Alue Bu Alue Nireh, Alue Tho, Seunubok Rawang, Seunubok Teupin dan Desa Alue Bu Alue Lhok.
Awalnya masyarakat turun ke sawah menggunakan air dari irigasi tersebut, namun lambat laut irigasi mulai rusak dan air tidak bisa dialiri sampai ke desa-desa.
"Tahun 90 itu udah mulai rusak dan tidak terurus, jadi warga awalnya memakai air ini untuk ke sawah sudah tidak bisa lagi, hanya berharap air hujan sawah kami pun sudah berubah menjadi sawah tadah hujan," tuturnya.
Selama kerusakan itu masyarakat di lima Gampong hanya menanam padi setahun sekali, karena kekurangan air, sempat dipaksa untuk dua kali musim tanak dalam setahun namun berefek pada kegagalan panen karena kekurangan air.
Irigasi Mon Jiem-jiem itu saat ini sudah banyak mengalami kerusakan, bahkan lantai dasar sudah dangkal dan ada yg rusak serta pintu penutup air juga sudah tidak ada lagi. Air yang berada di irigasi tersebut saat ini hanya tinggal sedikit dan tidak ada mengalir.
Ibrahim menjelaskan bahwa irigasi tersebut perlu perluasan dan normalisasi, karena di aliran irigasi tersebut ada mata air yang saat ini sudah mengecil, perlu adanya pembersihan di ujung agar mata air kembali besar dan air bisa penuh,
"Ini perlu normalisasi dan perluasan irigasi, agar air bisa sampai lagi ke sawah, jika tidak maka akan seperti ini terus," tuturnya.
Ia juga membeberkan bahwa pihaknya sudah memasukkan proposal beberapa kali ke pemerintah agar dibangun kembali irigasi tersebut. Namun sampai saat ini tidak ada tanggapan apapun.
"Bahkan pihak pertanian atau pengairan tidak pernah turun kemari untuk melihat kondisi irigasi ini," ungkapnya.


