![]() |
| Bupati Aceh Timur, Iskandar Usman Al-Farlaky. Dok. Komunitas Trail IM-TRAX |
AtimNews.com, ACEH TIMUR -- Lumpur itu menempel jelas di seluruh celana dan baju Bupati Kabupaten Aceh Timur, Iskandar Usman Al-Farlaky.
Warnanya cokelat pekat, masih basah, belum sempat mengering. Ia tidak peduli. Langkahnya terus menyusuri seluruh Desa-desa terparah yang direndam banjir bandang sejak 26 November 2025 lalu, menyapa warga satu per satu yang masih bertahan di rumah dan di pengungsian hingga hari ini ia baru saja pulang dari bermalam bersama pengungsi di Dusun Rantau Panjang, Desa Sejudo, Kecamatan Pante Bidari bersama rombongan relawan dan komunikasi Trail IM-TRAX Aceh Timur. Kamis (01/01/2026).
![]() |
| Komunitas Indra Makmu Trail Adventure Expedition (IM-TRAX) mengawal Bupati Al-Farlaky Trabas ke daerah perdalaman Kecamatan Pante Bidari. |
Air memang telah surut, tetapi duka belum sepenuhnya pergi. Sisa banjir menyisakan lumpur, rumah rumah warga rata dengan tanah hingga kebun petani juga ikut rusak, dan wajah-wajah lelah yang menahan cemas. Di tengah suasana itu, kehadiran orang nomor satu di Aceh Timur menjadi penguat, bahwa penderitaan mereka benar-benar dilihat dan dirasakan.
Tanpa alas kaki yang bersih, Al-Farlaky menapaki jalan becek, masuk ke tempat pengungsian, dan berhenti lama mendengar cerita. Ada petani yang sawahnya tertimbun lumpur, kebunnya hilang, ada ibu-ibu yang kehilangan peralatan dapur, ada anak-anak yang terpaksa tidur di pengungsian. Semua didengarnya dengan sabar.
“Yang terpenting sekarang keselamatan dan kebutuhan warga harus terpenuhi,” ucap Bupati Al-Farlaky lirih, sembari menunjuk lokasi yang masih membutuhkan bantuan tambahan.
![]() |
| Seorang pengungsi pecah tangis haru sambil peluk Bupati Al-Farlaky. |
Tak ada jarak antara pemimpin dan rakyat. Ia ikut mengangkat karung bantuan, berdiskusi dengan relawan, serta memastikan dapur umum dan layanan kesehatan berjalan. Sesekali ia tersenyum, menguatkan warga yang mulai putus asa, meski wajahnya sendiri menunjukkan kelelahan sudah sebulan lebih ia turun ke Desa-desa dan kem pengungsian warga.
Bagi warga, baju berlumpur sang Bupati Al-Farlaky adalah simbol yang berbicara lebih lantang daripada Pidato. Seorang warga paruh baya di lokasi pengungsian berkata, “Kami melihat langsung. Pak Bupati Al-Farlaky tidak hanya datang meninjau, tapi benar-benar turun ke lumpur bersama kami, bahkan ia tidur malam ini bersama kami di tempat pengungsian” ungka Yusuf.
Di Aceh Timur, lumpur bukan sekadar sisa banjir. Ia menjadi saksi kepemimpinan yang hadir di saat sulit. Iskandar Usman Al-Farlaky menunjukkan bahwa jabatan bukan alasan untuk menjaga jarak, melainkan amanah untuk mendekat.
Kelak, lumpur di baju itu akan dicuci bersih. Namun jejak kepedulian yang ditinggalkannya akan tetap hidup dalam ingatan warga. Di tengah derita banjir, mereka melihat seorang pemimpin yang memilih basah, kotor, dan lelah—demi memastikan rakyatnya tidak berjuang sendirian.
![]() |
| Bupati Al-Farlaky bermalam bersama pengungsi di Desa Sijudo, Kecamatan Pante Bidari, Aceh Timur. |
Dan di antara genangan air yang sudah surut, lumpur itu telah lebih dulu mencatat satu hal penting: kepedulian sejati lahir dari keberanian seorang Pemimpin untuk hadir dan merasakan langsung penderitaan rakyatnya.
JURNALIS: Dr. (C) ROMI SYAHPUTRA, S.H., M.H., CPM., CPArb





