![]() |
| Pemakalah. |
OLEH: Zulfan Fahmi, Amirul Mukminin, Dainur, dan Romi Syahputra, Mahasiswa S3 Studi Islam UIN Sultanah Nahrasiah Lhokseumawe.
AtimNews.com, ACEH TIMUR — Paradigma teoantroposentrik-integralistik yang diperkenalkan oleh M. Amin Abdullah kembali menjadi sorotan dalam diskursus akademik di lingkungan perguruan tinggi Islam. Kamis, (07/05/2026).
Gagasan integrasi ilmu agama dan ilmu umum melalui konsep spider web atau “jaring laba-laba” dinilai masih sangat relevan dalam menghadapi tantangan zaman modern, termasuk perkembangan kecerdasan buatan (AI), krisis sosial, hingga persoalan kemanusiaan global.
Dalam kajian akademik bertajuk Integrasi Ilmu-Ilmu Keislaman dalam Perspektif M. Amin Abdullah, Mahasiswa Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sultanah Nahrasiah Lhokseumawe menyoroti pentingnya membangun hubungan interkonektif antara wahyu, ilmu agama klasik, ilmu sosial, dan ilmu pengetahuan modern.
Kajian tersebut disusun oleh Zulfan Fahmi, Amirul Mukminin, Dainur, dan Romi Syahputra dalam mata kuliah Integrasi Islam dan Ilmu Pengetahuan di bawah bimbingan Dr. Saifuddin Dhuhri, Lc., MA.
Dalam penelitian itu dijelaskan bahwa paradigma “jaring laba-laba” menempatkan Al-Qur’an dan Sunnah sebagai pusat inspirasi keilmuan, kemudian dikelilingi oleh ilmu-ilmu keislaman klasik, ilmu sosial-humaniora, hingga persoalan kontemporer seperti kemiskinan, konflik sosial, bencana alam, dan trauma psikologis masyarakat.
Menurut kajian tersebut, pola keilmuan yang selama ini memisahkan ilmu agama dan ilmu umum telah menyebabkan terjadinya “split personality” di kalangan akademisi Muslim. Sarjana agama dinilai sering kesulitan membaca persoalan sosial modern secara empiris, sementara sarjana sekuler dianggap kehilangan dimensi moral dan spiritual dalam memecahkan persoalan kemanusiaan.
“Paradigma ini bukan sekadar menggabungkan ilmu agama dan sains, tetapi membangun dialog yang saling memperkaya antara wahyu dan pengalaman empiris manusia,” tulis tim peneliti dalam kajiannya.
Penelitian tersebut juga menyoroti penerapan paradigma integratif dalam penanganan trauma pasca-bencana. Pendekatan dakwah konvensional dinilai tidak cukup efektif jika hanya bersifat ceramah normatif tanpa memahami kondisi psikologis korban. Karena itu, diperlukan kolaborasi antara ilmu agama, psikologi, komunikasi interpersonal, dan pendekatan spiritual yang empatik.
Dalam konteks perkembangan teknologi dan AI saat ini, paradigma jaring laba-laba dipandang mampu menjadi fondasi etis dalam penggunaan teknologi modern. AI dan sains modern dinilai membutuhkan panduan moral dan spiritual agar tidak kehilangan orientasi kemanusiaan. Sebaliknya, studi keislaman juga dituntut lebih terbuka terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan realitas sosial yang terus berubah.
Kajian ini menegaskan bahwa integrasi ilmu agama dan ilmu umum bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan mendesak bagi perguruan tinggi Islam dalam menghadapi tantangan peradaban masa depan.


