![]() |
| Keuchik Romi Syahputra, S.H., M.H., CPM., CPArb. |
AtimNews.com, ACEH TIMUR -- Air cokelat itu datang perlahan, lalu meninggi tanpa aba-aba. Di sejumlah Gampong di Kabupaten Aceh Timur, banjir kembali menjadi tamu yang tak diundang. Sawah terendam, rumah warga hancur serta dipenuhi lumpur, dan anak-anak terpaksa mengungsi dengan pakaian seadanya. Di tengah kecemasan itu, satu hal yang paling terasa justru adalah ketiadaan.
Beberapa bulan lalu di tahun 2024, Gampong-gampong ini ramai oleh baliho dan janji. Para calon wakil rakyat atau Caleg datang menyusuri lorong Gampong, duduk bersila di meunasah, menyalami warga satu per satu. Mereka berbicara tentang keberpihakan, tentang suara rakyat kecil, tentang kesiapsiagaan menghadapi bencana yang saban tahun menghantui Aceh Timur.
Namun kini, saat banjir benar-benar datang, wajah-wajah itu tak terlihat.
Hampir di semua Gampong dalam Kabupaten Aceh Timur, warga berjibaku menyelamatkan perabot rumah, bahkan banyak harta benda hanyut tingal kenangan. “Waktu kampanye, mereka bilang siap turun kapan pun rakyat susah,” ujar seorang warga Gampong Alue Ie Mirah, Kecamatan Indra Makmu sambil membersihkan lumpur dari lantai rumahnya. “Sekarang kami kebanjiran, yang datang hanya relawan dan aparat".
Kondisi serupa juga terjadi di beberapa kecamatan lain. Banjir merendam akses jalan, memutus aktivitas ekonomi, dan rumah hilang disapu air dan gelondongan kayu, bahkan sebagian warga kehilangan nyawa. Bantuan datang perlahan, sebagian besar dari swadaya masyarakat, relawan, dan dari Bupati Aceh Timur Iskandar Usman Al-Farlaky yang turun langsung ke Gampong - Gampong yang takut Rakyat nya kelaparan.
Selain itu, para Keuchik dan Perangkat Gampong kembali menjadi garda terdepan. Tanpa sorotan kamera, mereka mengatur dapur umum seadanya, mendata warga terdampak, dan mencari solusi darurat. “Kami tidak menunggu siapa-siapa,” kata Romi Syahputra, Keuchik Gampong Alue Ie Mirah, Kecamatan Indra Makmu. “Yang penting warga selamat dulu.” Rabu (07/01/2025).
Banjir di Aceh Timur bukan cerita baru. Setiap musim hujan, ancaman itu selalu menghantui. Warga tidak menuntut keajaiban. Mereka hanya berharap kehadiran, sebuah empati nyata dari mereka yang pernah meminta mandat dan kepercayaan.
Feature ini bukan sekadar tentang air yang meluap dari sungai. Ia adalah cermin tentang ingatan politik, siapa yang hadir saat janji diucapkan, dan siapa yang tetap tinggal ketika janji itu diuji oleh bencana.
Di tengah genangan air dan lumpur, rakyat Aceh Timur belajar satu hal pahit, "kampanye mudah diucapkan, tetapi kepedulian diuji saat bencana datang".


